The
Magic of Language (1)
Seorang
gadis bertanya pada ibunya, "Bu, bagaimana sih caranya
membahagiakan orang?"
Ibunya menjawab, "Nanti saya akan ceritakan. Sekarang,
kamu harus melakukan sesuatu untuk ibu lebih dulu. Kamu
lihat kakekmu di kursi roda sana?"
"Ya,
"kata gadis itu.
"Dekati
dan tanyakan bagaimana penyakit asmanya hari ini."
Si gadis mendatangi sang kakek yang sedang mandi matahari
di kebun, "Kakek," bagaimana penyakit asma kakek
hari ini?"
"Oh,
sedikit memburuk, cucuku," sahut si kakek. "Selalu
berubah memburuk, apalagi karena hujan deras yang turun
semalaman. Kakek jadi sulit tidur dan napas semakin sesak
saja rasanya." Rasa kesakitan terpancar diwajahnya.
Si gadis kembali lagi pada ibunya."Kakek mengatakan
memburuk dan nampaknya ia menderita. Apakah ibu mau menceritakan
padaku caranya membahagiakan orang sekarang?"
"Sebentar
lagi sayang, ibu janji,"ibunya berkata."Sekarang
dekati kakek lagi dan tanyakan apakah hal yang paling lucu
yang pernah kamu lakukan ketika kamu kecil dulu."
Si gadis mendekati kakeknya lagi."Kek," ia memulai,"apakah
hal yang paling lucu yang pernah aku lakukan ketika kecil
dulu, Kek?"
Si kakek mengangkat mukanya."Oh," ia tersenyum,
"banyak sekali. Kakek tidak ingat semuanya. Tapi kakek
pernah terpingkal-pingkal ketika kamu bermain dengan teman-temanmu
di malam Natal, karena kamu menumpahkan isi bedak diseluruh
penjuru rumah dan menganggap itu salju. Kakek masih ingat
- karena kakek tidak perlu membersihkannya." Si kakek
mengarahkan pandangannya ke depan, menerawang dan wajahnya
berseri-seri.
"Suatu
waktu ketika kakek membawa kamu jalan-jalan, sepanjang jalan
kamu bernyanyi sebuah lagu yang baru saja kamu dapat di
sekolah. Sangat keras. Kita berpapasan dengan seseorang,
orang itu memandang dengan muka tidak senang. Ia meminta
kakek untuk menghentikan nyanyianmu karena dia pikir terlalu
keras. Kamu menatap orang itu dan menjawab,"Kalau kamu
ngga bisa nyanyi jangan ngiri dong dan kalau kamu tidak
ingin dengar nyanyianku tutup saja kupingmu. Repot amat!"
Dan kamu sengaja bernyanyi semakin keras. Orang itu tersedak
dan pergi ngeloyor.
Si gadis kembali lagi pada ibunya," Ibu dengar apa
yang dikatakan kakek?" ia bertanya.
"Ya,"
ibunya menyahut."Kamu membuat kakek bahagia hanya dengan
mengubah sudut pandangnya."
"Cukup
satu kalimat," kata ibunya,"dapat membuat orang
bahagia, nak."
Sumber:
R.H. Wiwoho, "Reframing: Kunci Hidup Bahagia
24 Jam", Gramedia Pustaka Utama, 2004.